RESUME DAY 1


Kehidupan Berbangsa, Bernegara, Jati Diri Bangsa, dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara

Prof. Yudi Latif, MA., Ph.D Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan- Indonesia/ PSIK-Indonesia

Indonesia, yang pernah dianggap sebagai salah satu kekuatan ekonomi baru di Asia pada tahun 1990-an, kini kembali bergantung pada ekspor bahan mentah. Sementara itu, negara-negara lain yang merdeka sekitar waktu yang sama seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan India. Telah maju lebih jauh berkat fokus mereka yang kuat pada pengembangan sumber daya manusia.

Sejak awal, Bung Karno dan Bung Hatta menekankan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh ukuran atau jumlah penduduknya, melainkan oleh kualitas dan karakter masyarakatnya. Contoh nyatanya adalah Jepang, Korea, dan Tiongkok, yang keberhasilannya berawal dari fokus pada pembangunan manusia, alih-alih hanya mengandalkan sumber daya alam. Indonesia sendiri menghadapi tantangan yang signifikan karena keberagamannya, baik dari segi agama, suku, bahasa, maupun politik. Persatuan di tengah keberagaman ini hanya mungkin terwujud jika kita mencari titik temu alih-alih membesar-besarkan perbedaan. Hal ini dapat dicapai dengan melampaui batas persahabatan, memastikan inklusivitas dalam akses pendidikan, layanan kesehatan, dan politik, serta membangun integritas sebagai nilai bersama.

Dalam hal ini, Pancasila berfungsi sebagai landasan moral dan titik kumpul bangsa. Nilai-nilainya mencerminkan semangat universal: spiritualitas, kemanusiaan, keberanian, kebijaksanaan, dan keadilan. Pancasila tidak hanya dihafalkan; ia harus dihayati dalam praktik sehari-hari untuk benar-benar mempererat persatuan.

Pada hakikatnya, tujuan bangsa, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, adalah membangun masyarakat yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi juga memberi ruang bagi setiap orang untuk berkembang. Kemakmuran bukan sekadar kekayaan sumber daya alam, melainkan tentang menciptakan kemakmuran yang merata melalui inovasi dan nilai tambah. Dengan demikian, Indonesia dapat kembali kepada cita-cita awalnya: bangsa yang bersatu, adil, dan makmur yang membahagiakan rakyatnya.

 

Strategi Menumbuhkan Critical Thingking Ability untuk Menemukan Solusi Terbaik

Dr.Pulung Siswantoyo,SKM.,M.KES.

Berpikir kritis adalah kemampuan untuk mengevaluasi informasi secara jernih dan membuat keputusan yang tepat. Keterampilan ini dapat dikembangkan dengan menumbuhkan rasa ingin tahu—sering bertanya "mengapa" dan "bagaimana", lalu mencari akar permasalahannya, alih-alih hanya mengamati gejalanya. Kita juga perlu membiasakan diri melihat masalah dari berbagai sudut pandang, mendengarkan pendapat yang berbeda, dan mempertimbangkan berbagai alternatif solusi agar tidak terjebak dalam pola pikir tunggal. Di sisi lain, penalaran logis harus terus dilatih dengan mengenali argumen yang valid, membedakan fakta dari opini, dan mewaspadai kesalahan logika. Untuk membantu proses ini, sebaiknya gunakan kerangka kerja pemecahan masalah seperti PDCA, metode 5 Whys, atau analisis SWOT untuk memastikan langkah-langkah yang lebih terarah. Kesadaran akan bias pemikiran, seperti bias konfirmasi atau bias ketersediaan juga krusial, mendorong kita untuk mencari informasi yang bertentangan dengan keyakinan kita dan melibatkan orang lain untuk mendapatkan perspektif yang lebih seimbang. Setelahnya, jangan lupa untuk merenung, mengevaluasi kembali keputusan yang telah dibuat, dan belajar dari pengalaman baik maupun buruk. Keterampilan berpikir kritis juga akan semakin terasah jika kita terbiasa terlibat dalam diskusi dan debat yang sehat. Dari sana, kita belajar mendengarkan, memahami sudut pandang orang lain, dan melatih diri untuk menyampaikan alasan dengan bukti yang kuat. Sama pentingnya, teruslah belajar dari berbagai sumber, menghadiri sesi pelatihan, dan mencoba menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, keterampilan berpikir kritis akan berkembang dan menjadi alat penting untuk menemukan solusi terbaik atas setiap tantangan.

 

Mahasiswa Bebas Narkoba menuju Generasi Sukses yang Rahmatan lil ‘Alamin

Hari Prianto, S.E

"Narkoba" adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya yang memengaruhi sistem saraf pusat. Zat-zat ini dapat mengubah kesadaran, perasaan, dan bahkan perilaku seseorang. Karena efeknya yang signifikan, narkoba diatur secara ketat oleh undang-undang, dengan hanya sebagian kecil yang diizinkan untuk penggunaan medis di bawah pengawasan medis. Narkotika secara hukum dibagi menjadi tiga kelompok. Narkotika Kelas I adalah yang paling berbahaya dan tidak boleh digunakan untuk tujuan medis, termasuk heroin, kokain, dan ganja. Narkotika Kelas II, seperti morfin dan petidin, dapat digunakan untuk tujuan medis tetapi di bawah pengawasan ketat. Narkotika Kelas III memiliki potensi kecanduan yang lebih rendah dan umumnya digunakan dalam obat batuk tertentu, seperti kodein.

Narkoba juga dapat dibedakan berdasarkan efeknya pada tubuh. Depresan memperlambat fungsi otak, membuat penggunanya merasa tenang atau cemas, seperti puta dan morfin. Stimulan merangsang otak, membuat penggunanya lebih aktif, energik, dan bahkan sulit tidur, seperti metamfetamin dan ekstasi. Di sisi lain, halusinogen memengaruhi persepsi, menyebabkan penggunanya mengalami delusi atau halusinasi, seperti LSD dan ganja dalam dosis tinggi. Kecanduan atau ketergantungan terjadi ketika tubuh dan otak terbiasa dengan efek narkoba. Awalnya, pengguna merasa senang, tenang, atau energik. Namun, seiring waktu, tubuh akan membutuhkan dosis yang lebih besar untuk mencapai efek yang sama. Kurangnya ketergantungan membuat seseorang sulit untuk berhenti, meskipun mereka tahu konsekuensi berbahayanya.

 Secara biologis, kecanduan disebabkan oleh narkoba yang merangsang pelepasan dopamin, zat kimia otak yang menghasilkan perasaan senang. Ketika dopamin terstimulasi secara berlebihan, sistem saraf menjadi rusak. Otak kehilangan kemampuan alaminya untuk mengatur perasaan bahagia, konsentrasi, dan pengendalian diri tanpa bantuan obat-obatan. Inilah mengapa berhenti mengonsumsi obat-obatan seringkali terasa begitu menyiksa. Kerusakan otak akibat narkoba bisa permanen. Sel-sel otak yang mati tidak dapat digantikan, sehingga mengganggu daya ingat, logika, dan fungsi emosional. Efeknya nyata: kesulitan berpikir jernih, mudah tersinggung, depresi, dan perubahan kepribadian yang drastis. Dalam jangka panjang, narkoba tidak hanya merusak tubuh tetapi juga menghancurkan kehidupan sosial, pendidikan, dan masa depan penggunanya. 


- Facebook : https://www.facebook.com/unusaofficialfb - Instagram : https://www.instagram.com/unusa_official/ - Youtube : https://www.youtube.com/@unusa_official - Twitter ( X ) : https://x.com/unusa_official?lang=en - Tiktok : https://www.tiktok.com/@unusa_official

fkk.unusa.ac.id 

lihat juga blog teman saya : keisha ainur rochima


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Move On dari Gagal SNBT

RESUME DAY 2