RESUME DAY 2

 





Tema : Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri

Ainun Najib 

Pertemuan bertajuk "AI, Kreativitas, dan Kemanusiaan di Era Digital" ini menekankan bahwa kecerdasan buatan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, baik di bidang pendidikan maupun bidang lainnya. Kehadirannya bahkan sudah tidak asing lagi di kalangan anak-anak, yang menggunakannya untuk belajar dan menyelesaikan tugas sekolah. Perubahan ini dianggap sebanding dengan penemuan listrik pada masanya, karena keduanya membawa lompatan besar yang mengubah wajah peradaban. Namun, betapa pun besar pengaruhnya, ada dua dimensi krusial yang tak tergantikan oleh teknologi ini: kapasitas manusia untuk berkreasi dan rasa kemanusiaan yang berakar pada empati dan kasih sayang. Kreativitas bukan sekadar kemampuan memproses informasi; melainkan kecerdikan dalam merancang strategi, menghasilkan ide-ide baru, dan memberikan panduan dalam memecahkan masalah kompleks. Kemanusiaan, di sisi lain, mencakup kepedulian yang tulus, kemampuan memahami perasaan orang lain, dan kepekaan untuk hadir dan memberdayakan. Kedua kualitas ini mustahil ditiru oleh AI, karena keduanya lahir dari pengalaman hidup, hati nurani, dan kedalaman jiwa manusia.

Oleh karena itu, pekerjaan yang hanya mengandalkan rutinitas tanpa kreativitas atau empati akan mudah tergantikan. Di sisi lain, bidang yang memerlukan interaksi langsung dengan orang lain, seperti pendidikan dan perawatan kesehatan, masih memerlukan sentuhan manusia, meskipun proses teknisnya semakin disederhanakan dengan bantuan AI. Di sisi lain, profesi yang berbasis pada ide-ide kreatif, seperti seni, arsitektur, dan desain, memang akan sangat diuntungkan oleh dukungan teknis AI, tetapi inti gagasan, arah estetika, dan makna yang dituju tetap bergantung pada manusia. Bidang yang paling menantang sekaligus menjanjikan adalah bidang yang menggabungkan kreativitas dan kemanusiaan. Kepemimpinan adalah contoh paling nyata. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk cerdas analitis atau rasional dalam pengambilan keputusan, tetapi juga harus cerdik membaca situasi dan memasukkan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam setiap kebijakan. Tanpa kepekaan tersebut, kepemimpinan akan kehilangan maknanya dan hanya menjadi alat kekuasaan tanpa rasa keadilan.

Dalam konteks ini, pembicara menekankan peran penting Nahdlatul Ulama (NU) dan kampus-kampus di bawah naungannya. Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesejahteraan dan rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta), NU diharapkan mampu mengarahkan pengembangan AI agar tidak digunakan untuk tujuan-tujuan yang merusak, seperti perang dan kekerasan, melainkan justru membawa kebaikan bagi kemanusiaan. Sejarah mencatat bagaimana Gus Dur rela mengundurkan diri dari jabatannya demi mencegah perpecahan bangsa. Pengorbanan diri tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati selalu mengutamakan keselamatan dan kemanusiaan di atas segalanya. Bagi siswa, tantangan terbesar terletak pada adaptasi metode pembelajaran mereka terhadap tuntutan zaman. Pendidikan, yang sebelumnya menekankan hafalan, kini harus beralih ke keterampilan berpikir kritis, eksperimen yang berani, pemecahan masalah, dan keterbukaan untuk berkolaborasi dengan AI.

Meskipun teknologi dapat menjadi pendamping yang meringankan beban kerja, kendali tetap berada di tangan manusia, yang memberi makna pada setiap pengetahuan. Kisah klasik tentang keledai yang membawa banyak buku tetapi tidak memahami isinya menjadi metafora yang relevan: pengetahuan tanpa apresiasi adalah beban, bukan manfaat. Demikian pula, AI hanya bisa menjadi alat, bukan pengganti nilai-nilai kemanusiaan. Pertemuan ini pada akhirnya menekankan bahwa setiap perubahan era membawa tantangan sekaligus peluang. AI hanyalah sebuah alat; ia dapat membawa kebaikan jika diarahkan dengan tepat, tetapi juga dapat menimbulkan ancaman jika digunakan tanpa kendali. Oleh karena itu, generasi muda dituntut untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga menjadi penggerak perkembangan. Kreativitas dan kemanusiaan harus dilestarikan sebagai identitas inti manusia yang tak tergantikan. Dengan belajar dengan tekun, mengasah kepekaan sosial, dan menjunjung tinggi budi pekerti dalam menuntut ilmu, para siswa dapat memastikan bahwa kemajuan AI tidak menyesatkan umat manusia. Sebaliknya, teknologi ini seharusnya membawa kita lebih dekat kepada tujuan mulia kita: memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat manusia.

 

Tema: Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi

Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.H. - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2024

Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat korupsi yang serius. Korupsi telah menyebar ke berbagai sektor, mulai dari pemerintahan dan sistem hukum hingga sektor sosial, membentang dari barat ke timur, utara ke selatan. Praktik ini tidak hanya memengaruhi pejabat tinggi, tetapi juga semua lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang. Akibatnya, sistem demokrasi yang seharusnya menjamin keadilan dan kesejahteraan justru mengalami kemerosotan. Penegakan hukum kehilangan wibawanya, kualitas sumber daya manusia melemah, dan pasar dirusak oleh praktik-praktik yang tidak sehat. Lebih lanjut, korupsi memiliki efek berantai berupa pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan lainnya, seperti pencucian uang, yang memperburuk keadaan bangsa. Bentuk korupsi di Indonesia beragam. Ini termasuk tindakan ilegal yang merugikan negara, praktik suap dan gratifikasi yang merusak kepercayaan publik, dan pemerasan yang menindas kelompok rentan.

Lebih lanjut, konflik kepentingan seringkali memengaruhi kebijakan publik, sementara upaya untuk menghalangi proses hukum juga merupakan masalah yang berulang. Hal ini menggambarkan bahwa korupsi bukan hanya masalah hukum, tetapi juga krisis moral yang menggerogoti nilai-nilai kejujuran dan integritas dalam masyarakat. Pada acara Gerakan Kesejahteraan Keluarga Berencana Nasional (PKK-MB) UNUSA 2025, Dr. Nurul Gufron, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019–2024, diundang untuk menyampaikan paparan tentang pentingnya membangun generasi muda yang berintegritas. Beliau menekankan bahwa kecerdasan tanpa integritas tidak akan bermanfaat dan bahkan dapat menjadi bumerang, digunakan untuk membenarkan perilaku menyimpang. Beliau percaya bahwa integritas merupakan syarat utama bagi mahasiswa dan kaum muda, karena hanya dengan landasan moral yang kuat mereka dapat melawan tantangan korupsi yang semakin kompleks. Dr. Nurul Gufron juga menekankan bahwa mahasiswa adalah generasi penerus yang berperan penting dalam menentukan arah bangsa. Mereka memegang harapan untuk mewujudkan perubahan demi Indonesia yang lebih baik.

Oleh karena itu, mereka perlu dibiasakan untuk menolak segala bentuk kesepakatan, sekecil apa pun, sejak dini. Membangun integritas dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menghindari perilaku tidak jujur ​​selama kuliah, menjaga komitmen terhadap peraturan, dan menanamkan rasa tanggung jawab dalam setiap tindakan. Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa integritas bukan sekadar urusan pribadi, melainkan komitmen bersama. Jika generasi muda secara kolektif menganut nilai-nilai kejujuran dan dedikasi, akan tercipta budaya baru yang menolak segala bentuk penyimpangan. Budaya ini akan menjadi benteng pertahanan terhadap ancaman korupsi. Sebaliknya, jika integritas diabaikan, bangsa akan semakin terjerumus ke dalam krisis yang sulit untuk dipulihkan. Melalui pendidikan, pengembangan karakter, dan penguatan nilai-nilai moral, perguruan tinggi seperti UNUSA diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga berintegritas tinggi.

Pendidikan bukan sekadar menyiapkan tenaga kerja, tetapi juga membentuk pribadi yang berjiwa murni, jujur, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya siap menghadapi dunia kerja, tetapi juga siap menjadi agen perubahan dalam pemberantasan korupsi. Terakhir, Dr. Nurul Gufron menekankan bahwa pemberantasan korupsi tidak bisa hanya bertumpu pada aparat penegak hukum. Seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, harus terlibat aktif dalam gerakan ini. Dengan integritas sebagai fondasinya, kecerdasan akan menjadi kekuatan yang konstruktif, bukan sebaliknya. Komitmen bersama dalam pemberantasan korupsi merupakan modal utama bagi Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan dan bergerak menuju bangsa yang maju, adil, dan bermartabat.

 

Tema: Mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An- Nahdliyah

KH Ma'ruf Khozin - Ketua Aswaja Center, PWNU Jawa Timur

 

Istilah Ahlussunnah wal Jama'ah tidak hanya merujuk pada sunah Nabi sebagai tindakan atau yurisprudensi Islam, tetapi lebih luas lagi, pada cara hidup keagamaan yang dipraktikkan oleh Nabi, para sahabat, dan para imam mazhab-mazhab Islam. Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan bahwa Ahlussunnah wal Jama'ah adalah cara hidup keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun, yang disebut At-Tariqatul Mardiyah Al-Masluqah Fiddin, atau metode keagamaan yang diridhai Allah. Dalam pandangan NU, Ahlussunnah wal Jama'ah berarti mengikuti mayoritas umat Islam (asawadul a'zhom), yaitu mereka yang menganut empat mazhab besar: Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Mazhab Hanafi dan Maliki tersebar luas di Timur Tengah dan Afrika, sementara mazhab Syafi'i paling dominan di Asia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, NU tidak sendirian, melainkan bagian dari gerakan Islam global yang lebih besar dan tersebar di berbagai wilayah. NU dikenal dengan sikap moderatnya. Mereka tidak condong ke arah yang berlebihan maupun kelonggaran yang berlebihan, melainkan menganut jalan tengah. Nilai tasamuh (toleransi) sangat dijunjung tinggi, termasuk dalam interaksi dengan non-Muslim. NU menekankan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Pandangan ini bersumber dari ajaran para kiai terdahulu, seperti Syekh Kholil Bangkalan, yang meninggalkan pesan bahwa agama dan cinta tanah air dapat berjalan beriringan.

Tradisi-tradisi yang dipraktikkan oleh warga Nahdlatul Ulama (NU), seperti membaca qunut saat salat subuh, membaca Yasinan, membaca tahlilan, berziarah ke makam, dan membaca shalawat, semuanya memiliki dasar yang jelas dalam tradisi para ulama. Misalnya, qunut didasarkan pada kesaksian Anas, membaca shalawat dengan menyebut "sayyidina" (para sahabat Nabi), dan ziarah ke makam dianjurkan untuk mendoakan orang yang telah meninggal. Tradisi-tradisi ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan juga bentuk pengamalan ajaran yang memperkuat kebersamaan dan spiritualitas masyarakat. Selain menjunjung tinggi praktik-praktik ini, NU juga berperan dalam mempersiapkan generasi penerus untuk memimpin dan mengayomi masyarakat. Banyak tokoh NU yang telah aktif di berbagai bidang, termasuk bidang sosial, politik, dan profesional. Berbekal ilmu dan nilai-nilai keagamaan, kader NU diharapkan menjadi pemimpin yang mampu memegang teguh adat istiadat sekaligus menjawab tantangan zaman. Di sisi lain, ajaran patriotik yang kuat menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) memadukan nilai-nilai Islam dengan semangat kebangsaan.

Semboyan "hubbul wathan minal iman" (berhutang budi kepada Allah) bukan sekadar kata-kata, melainkan prinsip yang diamalkan untuk membangun Indonesia yang damai dan bermartabat. Para ulama NU telah lama mengajarkan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari rasa tanggung jawab kepada bangsa. Melalui sikap moderat, nilai-nilai toleransi, tradisi keagamaan, dan ajaran patriotik, NU memproyeksikan citra Islam yang ramah dan membumi. Pesan utama dari materi ini adalah bagaimana generasi muda, khususnya para santri, dapat melanjutkan warisan Ahlussunnah wal Jama'ah NU: menjalankan agama dengan integritas, menjunjung tinggi adat istiadat, dan menghadirkan Islam yang tenang dan relevan di masyarakat.

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form

 - Facebook : https://www.facebook.com/unusaofficialfb

- Instagram : https://www.instagram.com/unusa_official/

- Youtube : https://www.youtube.com/@unusa_official

- Twitter ( X ) : https://x.com/unusa_official?lang=en

- Tiktok : https://www.tiktok.com/@unusa_official

fkk.unusa.ac.id 

Lihat juga punya teman saya : keisha ainur

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form

 

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME DAY 1

Tips Move On dari Gagal SNBT